Apiatno – ANALISIS DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP PRODUKSI PANGAN, PENDAPATAN PETANI, DAN KETAHANAN PANGAN

Home / PUBLIKASI JURNAL / Apiatno – ANALISIS DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP PRODUKSI PANGAN, PENDAPATAN PETANI, DAN KETAHANAN PANGAN

AHUN 2016

No ISSN             : 2086-1613

Volume / Edisi    : Volume 6/Edisi 2

Abstak :

Kabupaten Bekasi yangmerupakan sentra produksi pertanian potensial di Provinsi Jawa Barat akanmengalami konversi lahan pertanian yang cukup besar, diperkirakan akanberdampak terhadap perubahan kesejahteraan petani. Dengan demikian,penelitian dampak konversi lahan pertanian terhadap perubahan kesejahteraanpetani menjadi penting untuk dilakukan untuk memperkaya informasi yangberkaitan dengan konversi lahan pertanian. Adapun indentifikasi masalah yang kami temukan dilapangan diantanya adalah dampak perubahan lahan terhadap produksi gabah, pendapatan petani, dan ketahanan pangan di kabupaten bekasi. Hasil penelitian yang kami lakukan dan menhasilkan adalah sebagai berikut: Pada tahun 2004, 2009, dan 2013 luas lahan sawah di Kabupaten Bekasi sempat mengalami peningkatan. Hal ini menyebabkan surplus produksi padi pada tahun-tahun tersebut. Surplus tersebut merupakan peningkatan produksi akibat adanya peningkatan luas lahan sawah. Surplus tersebut dihitung dengan asumsi yang sama pada perhitungan di atas dan nilainya dihitung kedalam mata uang rupiah. Perhitungan mengenai surplus produksi. Total produksi padi yang hilang selama sepuluh tahun terakhir seperti yang tertera pada Tabel 5 adalah sebesar 42.254,582 ton atau dengan nilai sebesar Rp 102.322.583.640. Total surplus produksi padi akibat pembukaan lahan sawah baru seperti yang tertera pada Tabel 13 adalah sebesar 14.163,33 ton atau dengan nilai sebesar Rp 28.588.930.912. Peluang memproduksi padi di Kabupaten Bekasi masih hilang sekitar 28.091,25 ton atau dengan nilai sebesar Rp 59.528.346.920. Hal ini disebabkan pencetakan sawah baru yang dilakukan tidak sebanding dengan alih fungsi lahan pertanian yang telah dilakukan.Nilai rata-rata selisih pendapatan sebesar Rp -2.781.513. Nilai ini berarti bahwa rata-rata petani akan berkurang pendapatan total perbulannya sekitar 2,78 juta rupiah. Hal ini akan terjadi ketika seluruh lahan mereka sudah dialihfungsikan menjadi non pertanian oleh pengembang. Lahan pertanian yang terus menurun akan menyebabkan produksi beras yang menurun pula. Hal ini bertolak belakang dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, dimana kebutuhan akan beras akan terus meningkat. Simulasi ini dilakukan dengan membandingkan jumlah beras yang dapat diproduksi dan jumlah beras yang dibutuhkan masyarakat pada tahun mendatang. Perubahan luas sawah dan jumlah penduduk diasumsikan berubah dengan laju rata-rata pada tahun 2004-2013, sedangkan jumlah produksi beras dikonversi sebesar 62,74 persen dari jumlah produksi padi yang dihitung berdasarkan luas sawahnya. Hal tersebut karena berat beras akan lebih ringan karena telah menghilangkan cangkang gabah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *