Nining Kurniasih – MEMBANGUN PERKEMBANGAN “BUDAYA DAGANG CINA”. GUNA MENINGKATKAN KEUNGGULAN UKM SIAP SAJI DI KABUPATEN SUMEDANGJAWA BARAT- INDONESIA

Home / PUBLIKASI JURNAL / Nining Kurniasih – MEMBANGUN PERKEMBANGAN “BUDAYA DAGANG CINA”. GUNA MENINGKATKAN KEUNGGULAN UKM SIAP SAJI DI KABUPATEN SUMEDANGJAWA BARAT- INDONESIA

TAHUN 2016

No ISSN             : 2086-1613

Volume / Edisi    : Volume 6/Edisi 2

Abstak :

Tingginya populasi usia produktif di Indonesia yang tak berbanding lurus dengan ketersediaan jumlah lapangan pekerjaan, mendorong orang Indonesia berlomba-lomba menciptakan terobosan untuk meningkatkan daya saing demi memajukan perekonomian masing-masing.Usaha renik (micro) di pedesaan harus memerhatikan juga persoalan struktural , berupa pola hubungan antar pelaku yang berkaitan dengan usaha renik tersebut. Pengusaha renik untuk menumpuk modal yang umumnya berujung pada kesulitan berkembangnya usaha, penting untuk dipetakanUntuk memajukan usaha renik perdesaan adalah dengan memutus ikatan ketergantungan, dengan membentuk jalur pemasaran dan perolehan bahan baku di antara pengusaha renik dengan bantuan kelompok pendamping dari LSM. Kelompok ini harus menjadi sarana yang menghubungkan pengusaha dengan pasar dan informasi yang selama ini dimonopoli pedagang pengumpul. Pemasaran UKM pengolaan makanan siap saji di Kabupaten Sumedang Jawa Barat merupakan UKM yang bermunculan saat ini sebagi alternatif dari perubahaan pelaku ekonomi dari penggarap pertanian beralih menjadi peaku UKM penghasil makanan siap saji seperti halnya di kabupaten Sumedang sebagai dampak dari beberapa fenomena pelaku ekonomi yang diakibatkan makin sempitnya lahan penggarapan pertanian, melalui pertumbuhan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah di daerah yang sangat bergantung pada dinamika dan pola pembinaan yang dilakukan Pemerintah Daerah, disamping faktor-faktor lain seperti tingkat pemahaman/pengetahuan masyarakat tentang manfaat dan arti koperasi dalam mendorong pengembangan usaha masyarakat. Perilaku masyarakat Kabupaten Sumedang umumnya diwarnai dan termotivasi oleh budaya organisasiaparat yang mengadopsi dan mentrasformasikankondisi yang datang dari lingkungan sebagai nilai-nilai leluhur berupa etika kabeheulaaan sauyunan,sarendeuk saigel, sabobot sapihanean, penggunaan uniform solontong (pakaian pangsi hitam-hitam dan nyoren tas bubuy)dan islamik pada diri birokrat. di Lingkungan Kabupaten Sumedang dengankarakteristik identitas dan karakteristik arah berpengaruh lebih kuat.Karakteristik budaya organisasi “sharing” atau “berbagi” merupakan karakteristik strategis dari karakteristik budaya organisasi yang dimiliki SDM UKM Indonesia sebagai alat pendukung implementasi kemajuan pembangunan melalui kemampuan yang terukur dengan memiliki kapasitas organized entrepreneurship bagi perilaku pelaku UKM dalam cara bekerja para karyawan maupun perilaku owner bervariasi menurut negara, dan tergantung padapersepsibudayaperusahaandan praktikmereka terbentuk dari kolaborasi pertemuan antara paradigma modern, PeningkatanEtos di Sumedang historikal persaingan dengan penduduk Indonesia terutama dengan Sarekat Dagang Islam. penyingkiran oleh kelompok atau perusahaan tertentu yang lebih baik. Budaya dagang Cina dengan memanfaatkan pembelian gabungan. Cara ini yaitu dengan menggabungkan banyak pesanan kecil sehingga menjadi besar sehingga menghemat biaya; memanfaatkan koperasi pedagang Cina yang dapat dipercaya; penghematan kerja dan waktu; mencari informasi yang lengkap tentang kondisi pasar; dan kemungkinan melawan kenaikan harga dengan gabungan-gabungan pemasok dan Perantara dalam sejarah Indonesia yang dikemukakan kiranya bisa menambah pemahaman mengenai jaringan perekonomian yang menjalain produsen dan konsumen dan persoalannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *